Sarasehan Pusat/Pusat Penelitian: Koordinasi awal bersama WRRI dan DRI

ITB Mantapkan Langkah Menuju Research University: Pusat Penelitian Jadi Garda Depan

Bandung, 20 Maret 2025 — Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Sarasehan Pusat dan Pusat Penelitian (PP) pada Kamis, 20 Maret 2025, di Auditorium Gedung CRiMSE lantai 8. Kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis bagi pimpinan universitas dan para kepala pusat riset untuk membahas penguatan peran PP dalam mewujudkan transformasi ITB menjadi Research University, dengan target ambisius masuk 150 besar universitas dunia.

Arah Kebijakan: Reposisi ITB sebagai Research University

Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi (WRRI), dalam arahannya, menyampaikan bahwa pencapaian peringkat global tidak bisa hanya mengandalkan kualitas pengajaran, namun harus bertumpu pada kekuatan riset. Oleh karena itu, ITB menata ulang struktur kelembagaan dengan membentuk Direktorat Riset dan Inovasi (DRI), yang kini menjadi koordinator utama bagi seluruh Pusat dan Pusat Penelitian. Selain itu, Komisi Penelitian akan dibentuk di bawah WRRI sebagai pengarah strategis kebijakan riset di ITB.

WRRI juga menekankan pentingnya indikator kuantitatif seperti publikasi ilmiah, sitasi, dan pengakuan internasional terhadap sivitas akademika. Target yang ditetapkan adalah 300 ribu sitasi dalam lima tahun, dengan 60% berasal dari jurnal Q1.

Direktur Riset dan Inovasi: Perlu Reformasi Tata Kelola PP

Prof. Dr. Elfahmi, S.Si., M.Si., Direktur DRI menambahkan bahwa tata kelola PP akan dibenahi untuk memperkuat peran dan legalitasnya. Salah satu langkah konkret adalah menetapkan anggota PP melalui SK Rektor atau SK WRRI. Selain itu, dukungan riset dari mahasiswa pascasarjana sebagai research assistant akan dimaksimalkan, dengan mencari sumber dana untuk mendukung tuition fee dan living allowance mereka.

Aspirasi dan Masukan dari Para Kepala Pusat

Diskusi berjalan dinamis, diisi dengan berbagai masukan dari para kepala pusat yang menggambarkan keragaman tantangan di lapangan:

  • Ir. V. Sri Harjati Suhardi, Ph.D. dari Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi menyampaikan keterlibatan peneliti asing dan dana dari industri melalui skema startup. Namun, ia menyoroti absennya skema Program Riset Internasional tahun ini, yang sebelumnya menjadi pintu masuk bagi visiting professor asing.
  • Prof. Dr. Zeily Nurachman dari Pusat Kajian Halal menyampaikan dua isu utama: kebutuhan SK resmi keanggotaan peneliti, serta kebutuhan mendesak akan laboratorium uji halal, yang walau membutuhkan biaya besar, dapat menjadi sumber pendapatan jangka panjang bagi ITB.
  • Dr. Hasballah Zakaria, S.T., M.Sc. dari Pusat Teknologi Kesehatan dan Keolahragaan menekankan perlunya kelanjutan Program Talenta Unggul untuk mendanai postdoc sebagai penggerak riset. Ia menyampaikan saat ini ada empat produk unggulan yang potensial dikembangkan lebih lanjut.
  • Prof. Ir. Abdul Waris, M.Eng., Ph.D. dari Pusat Sains Teknologi dan Inovasi Nuklir (PSTIN) mengungkapkan bahwa mereka tengah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir pertama di Indonesia. Evaluasi tapak sudah dilakukan, dengan Kalimantan sebagai lokasi potensial. Namun, kepala pusat belum memiliki legalitas formal melalui SK, yang dinilai perlu segera ditindaklanjuti.
  • Prof. Dr. Veinardi Suendo, S.Si., M.Eng. menyoroti skema pendanaan riset yang masih terfokus pada individu. Ia mendorong fleksibilitas pendanaan atas nama institusi PP, agar peneliti bisa berkontribusi di banyak proyek. Ia juga menyarankan pelibatan SDM tetap, baik sebagai peneliti maupun manajer riset, dengan jenjang karier yang jelas.
  • Dr. Saladin Uttunggadewa, M.Si. dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi menegaskan bahwa pusat ini telah berdiri selama 30 tahun dan memiliki banyak kerja sama industri dalam bidang komputasi dan pemodelan. Namun, keberlanjutan program perlu didukung dari sisi kelembagaan dan pendanaan.

Tanggapan dan Rencana Tindak Lanjut

Menanggapi berbagai masukan, DRI dan WRRI menyampaikan beberapa langkah strategis:

  • Koordinasi dan Pendanaan: DRI sedang menunggu alokasi tambahan anggaran riset. Sementara itu, PP diminta aktif menjaring dana dari luar kampus, termasuk industri, pemerintah, dan mitra internasional.
  • Fasilitas dan Infrastruktur: DRI akan menyediakan ruang coaching clinic untuk pendampingan penulisan proposal, serta sedang menyiapkan co-working space di CRiMSE lantai 2. Juga direncanakan pengembangan High Performance Computing Centre.
  • Pendanaan Halal Lab dan Riset Multidisiplin: WRRI mendorong pengajuan proposal pitching khusus untuk laboratorium halal dan riset-riset kolaboratif lintas disiplin, misalnya untuk proyek PSTIN yang melibatkan ahli dari Teknik Sipil, Kimia, dan lainnya.
  • Struktur Organisasi dan Karier: WRRI mendukung pembentukan permanent research staff dengan jenjang karier yang jelas. Komisi WRRI juga akan merumuskan pembagian peran antara kelompok keahlian (KK) dan PP dalam pencapaian indikator kinerja.
  • Skema Riset Inklusif: WRRI berencana membuat kluster program agar lebih terukur dan inklusif, termasuk skema baru untuk para peneliti menengah yang tidak cocok dengan skema riset unggulan maupun peningkatan kapasitas.

Penutup

Sarasehan ini dihadiri oleh lebih dari 20 peserta, mulai dari kepala pusat, peneliti senior, hingga pimpinan fakultas. Suasana diskusi yang terbuka dan konstruktif mencerminkan semangat kolaboratif ITB dalam menata ulang ekosistem risetnya.

Transformasi menuju Research University bukan hanya soal jumlah publikasi, tetapi juga keberanian untuk menata ulang sistem, membuka ruang kolaborasi, dan menjadikan riset sebagai wajah ITB di tingkat nasional dan global.

34

dilihat